KATA PENGANTAR
Segala
puji dan syukur alchamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT karna
berkat limpahan rahmatNYA dan berkah NYA
penulis bisa menyesaikan karya tulis ini dengan
tepat waktu.
Berikut
penulis mengusung judul “BIAYA BAHAN ” karya tulis ini memberi sedikit tambahan
ilmu tentang biaya bahan dan karya tulis memberikan dasar dasar teori biaya
bahan.
Penulis
menyadari bahwa masi banyak kekurangan kekurangan yang harus di perbaiki untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan karya tulis ini dari para
pembaca.
Akhir
kata saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan
membantu dalam menyelesaikan karya tulis khusus kepada dosen pembimbing saya
ucapakan ribuan terima kasih atas bimbingannya sehingga karya tulis ini bisa
selesai dengan tepat waktu.
Semoga karya tulis ini bisa memberi manfaat
dan sumbangsi positif bagi kita semua.
Batam, Desember 2014
Ria
Uriva
BAB I PENDAHULUAN
I.1
LATAR BELAKANG MASALAH
Pada
saat ini, peningkatan kemampuan untuk menghasilkan barang terlihat dari semakin
banyaknya jumlah dan variasi dari barang yang diperjualbelikan dan dikonsumsi
oleh masyarakat. Barang yang siap sipasarkan terlebih dahulu harus dihasilkan
atau diproduksi.
Dalam
hal ini, perlu dikembangkan pemikiran pemikiran pengkajian untuk mendapatkan
cara yang lebih baik guna menghasilkan keluaran secara optimal, sehingga dapat
mencapai sasaran secara tepat waktu, tepat jumlah cepat dengan mutu dan biaya
yang lebih efisien.Oleh karena itu, diperlukan cara yang sesuai untuk mengelola
usaha yang menstransformasikan masukan menjadi keluaran.
Peranan
manajemen dibutuhkan dalam pelaksanaan produksi agar dapat mencapai tujuan yang
diharapkan untuk menghasilkan barang dalam jumlah yang ditetapkan, dengan
kualitas yang ditentukan, dengan biaya yang direncanakan dan dalam waktu yang
direncanakan dengan harga pokok produksi yang sesuai.
I.2
TUJUAN PENULISAN
ü Untuk
mengetahui bagaimana perusahaan melakukan perencanaan biaya produksi dalam
menentukan harga pokok.
ü Tujuan
adalah untuk mengetahui berapa besarnya biaya dalam persediaan bahan serta
menentukan harga-harga pokok bahan tersebut
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perencanaan dan Pengendalian Bahan
Perencanaan bahan dipengaruhi oleh sifat kegiatan produksi perusahan, apakah
kegiatan produksi tergantung kepada datangnya pesanan dari langganan (pembeli),
atau kegiatan produksi bersiafat massa atau proses. Umumnya perencaan bahan
pada perusahan yang kegiatan produksinya bersifat proses atau massa lebih mudah
di bandingkan dengan perusahan yang berproduksi berdasar pesanan.
Tujuan perencaan dan pengendalian bahan mempunyai 2 tujuan pokok:
1. Untuk menekan (meminimumkan) biaya.
2. Untuk memaksimumkan laba dalam waktu tertentu dan dengan dana tertentu.
Dalam perencanaan dan pengendalian bahan yang menjadi masalah utama adalah
menyelengarakan persedian bahan yang paling tepat, agar kegiatan produksi tidak
terganggu dan dana yang ditanamkan dalam persedian bahan tidak berlebihan.
Masalah tersebut berpengaruh pada penentuan ;
1. Penentian Kuantitas Yang Akan Di beli dalam Periode Akuntasi Tertentu
Apabila perusahan memiliki standar kuantitas atau formula kuantitas pemakaian
bahan, akan membantu untuk mempermudah penentuan kuantitas bahan yang akan
dibeli dalam akuntasi tertentu
Faktor-faktor yang menentukan kuantitas bahan baku yang akan di beli dalam satu
periode akuntasi adalah:
a. Jumlah kuantitas persediaan awal bahan
b. Jumlah produksi ekuivalen (setara) yang akan dihasilkan dalam periode
tertentu
c. Kuantitas bahan yang diperlukan untuk menghasilkan satu buah produk
d. Jumlah kuantitas persediaan akhir bahan yang di inginkan oleh perusahan
2. Menentukan Kuantitas Bahan yang Dibeli Setiap kali Dilakukan Pembelian
Setelah anggaran kuantitas pembelian barang dalam satu periode di tentukan maka
timbul masalah beberapa kali dan dalam jumlah berapa pembelian bahan akan
dilakukan dalam satu periode agar memenuhi pembelian tersebut adalah bagaimana
dapat mencukupi agar tidak mengganggu kelancaran kegiatan produksi dan dapat
menekan harga perolehan (cost) bahan serendah mungkin.
Elemen yang mempengaruhi harga perolehan bahan adalah sebagai berikut:
a. Harga faktur termasuk biaya angkut dari setiap satuan (cost per unit) bahan
yang di beli
b. Biaya pemesanan atau disebut procurement cost atau set-up cost atau ordering
cost.
Biaya pemesanan adalah biaya yang terjadi dalam rangka melaksanakan kegiatan
pemesanan bahan.
Biaya pemesanan dapat dikelompokan menjadi:
1. Biaya pemesanan tetap yaitu biaya pemesanan yang besarnya tetap sama dalam
periode tertentu tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemesanan; misalnya gaji
bagian pembeli
2. Biaya pemesanan variabel yaitu biaya pemesanan yang jumlah totalnya ber
ubah-ubah secara proporsional dengan frekuensi pemesanan; misalnya biaya
penerimaan bahan yang di pesan
c. Biaya penyimpanan atau disebut stroge cost atau carrying cost.
Biaya penyimpanan adalah biaya yang terjadi dalam rangka melaksanakan kegiatan
penyimpanan bahan.
Biaya penyimpanan dapat dikelompokan menjadi:
1. Biaya penyimpanan tetap yaitu biaya penyimpanan bahan yang jumlah totalnya
tidak dipengaruh jumlah atau besarnya bahan yang disimpan digudang; misalnya
biaya penyusutan gudang
2. Biaya penyimpanan variabel yaitu yaitu biaya penyimpanan bahan yang jumlah
totalnya ber ubah-ubah secara proporsional dengan jumlah atau besarnya bahan
yang disimpan. Misalanya biaya sewa gudang (apabila gudang disewa oleh pihak
lain)
Dari elemen yang mempengauruhi atau membentuk harga perolehan bahan tersebut
dimuka, faktor yang menentukan berapa kali dan berapa jumlah setiap kali
pembelian bahan adalah biaya pemesanan variabel dan biaya penyimpanan variabel.
Kedua macam biaya ini meskipun ke dua-duanya bersifat variabel mempunyai hubungan
berbanding terbalik, semakin tinggi frekuensi pemesanan akan berakibat biaya
pemesanan variabel semakin tinggi tetapi berakibat pada biaya penyimpanan
variabel yang semakin rendah karena rata-rata bahan yang disimpan semakin
rendah, semakin rendah frekuensi pemesanan berakibat biaya pemesanan variabel
rendah tetapi biaya penyimpanan variabel tingg karena rata-rata bahan yang
disimpan semakin tinggi.
3. Penentuan Waktu Pemesanan Kembali Bahan (Re Orde Point)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pemesanan kembali adalah:
a. Waktu yang diperlukan dari saat pemesanan sampai bahan datang diperusahan
(lead time).
b. Tingkat pemakaian bahan rata-rata per hari atau satuan waktu lainnya.
c. Persediaan besi (safety stock).
4. Penentuan Minimum dan Maksimum Kuantitas Persediaan Bahan
Dari perhitungan EOQ dan recorde point dapat ditentukan titik minimum dan
maksimum persediaan bahan. Persediaan yang diselenggarakan paling banyak
sebesar titik maksimum, yaitu pada saat bahan yang dibeli datang, Tujuan
penentuan maksimum agar dana yang tertanam dalam persediaan bahan tidak
berlebihan. Karena pada saat bahan yang dibeli datang besarnya bahan digudang
sama dengan persediaan besi, maka setelah bahan yang dimasukan pula kegudang
persediaan maksimum adalah:
Ms = SS + EOQ
Dimana:
Ms = Maximum inventory point, titik persediaan maksimum.
SS = safety stock, atau persedian besi yang sekaligus merupakan minimum
inventory point (Mn) sesaat sebelum pembelian bahan datang.
EOQ = economi order Quantity, kuantitas pemesanan paling ekonomis.
B. Penentuan Harga Pokok Bahan yang Dibeli
Menurut prinsip akuntansi, yang termasuk didalam harga pokok bahan yang dibeli
adalah meliputi harga faktur ditambah biaya lainnya yang terjadi dalam rangka
perolehan bahan, baik yang berhubungan dengan biaya pemesanan (Ordering cost)
maupun biaya penyimpanan ( carrying cost) sampai dengan bahan siap dipakai
didalam kegiatan produksi, dikurangi dengan pemotongan pembelian, rabat dan
subsidi langsung atas pembelian.
Cara perlakuan terhadap elemen-elemen yang berhubungan dengan pemilikan dan
perolehan bahan:
1. Potongan pembelian bahan
Menurut prinsip akuntansi potongan pembelian bahan mengurangi harga faktur
bahan yang dibeli.
2. Kemasan atau kontainer bahan
Dalam membeli barang seringkali menggunakan kemasan atau kontainer
barang(tempat menyimpan) bahan yang nantinya harus dikembalikan kepada suplier
bahan.
3. Biaya angkutan pembelian
Biaya angkutan bahan yang dibeli ditanggung oleh suplier tidak menam bah harga
perolehan bahan.
4. Biaya bahan-bahan bagian pengelolaan bahan
Bagian-bagian yang berhubungan denagan pengelolaan bahan meliputi bagian
pembelian, bagian penerimaan, bagian gudang bahan, bagian akuntansi persediaan
bahan.
C. Perhitungan Harga Pokok Bahan Yang Dipakai
Setelah harga pokok (perolehan) bahan yang dibeli dapat ditentukan, selanjutnya
timbul masalah penentuan harga pokok bahan yang dipakai.penyebab timbulnya
masalah tersebut karena perbedaan harga perolehan satuan stiap kali dilakukan
pembelian bahan yang sama, jadi fluktuasi harga.
Tujuan akuntansi penentuan harga pokok bahan yang dipakai adalah:
1. Untuk penentuan harga pokok yang dipakai dan harga pokok persedian bahan
dengan lebih adil dan teliti.
2. Untuk tujuan pengendalian (pengawasan) atas bahan
Faktor-faktor yang menentukan harga pokok bahan yang dipakai adalah:
1. Metode akuntansi perusahan
Dalam menyelenggarakan pencatatan persedian bahan perusahan dapat memilih
metode akuntansi persedian yang ada yaitu:
a. Metode persedian phisik
Metode persedian phisik hanya dapat digunakan oleh perusahan yang relatif kecil
dan mengumpulkan harga pokok produk berdasar proses,dimana phisik persedian
bahan masih memungkinakan diawasi secara langsung oleh manajemen perusahan.
b. Metode persediaan abadi
Metode persediaan abadi disebut pula metode persediaan terus-menerus atau kekal
adalah metode akuntansi persediaan yang terus-menerus mengikuti mutasi atau
perubahan di dalam persediaan.
Prosedur akuntansi bahan dalam metode persediaan abadi misalnya sebagai
berikut:
1. Pembelian bahan
Atas dasar skedule pembelian atau permintaan bagian teknik, perencaan dan rute
produksi,atau bagian yang memerlukan bahan, oleh bagian pembelian dibuat
dokumen pesanan pembelian yang yang kirimkan kepada suplier.
Bahan yang dibeli diterima oleh bagian penerimaan dan diperiksa dengan
kesesuaiannya bahan yang dipesan, bagian penerimaan membuat bukti laporan
penerimaan bahan.
2. Pengembalian pembelian barang
Apabila terdapat bahan yang dibeli dikembalikan kepada suplier karena tidak
sesuai dengan yang dipesan, bagian pengiriman mengirimkan bahan tersebut kepada
suplier dan membuat bukti pengembalian pembeli.
3. Pemakaian bahan
Bagian yang memerlukan bahan, yaitu bagian produksi atau bagian teknik,
perencanaan dan rute produksi, membuat bon permintaan bahan atau daftar
permintaan bahan ke gudang bahan.
4. Pada akhir periode diadakan perhitungan phisik persediaan yang tujuannya
bukan untuk menentukan harga pokok bahan yang dipakai, tetapi untuk pengawasan
phisik persediaan apakah sesuai denagan kartu persediaan bahan.
2. Metode aliran harga pokok
Beberapa macam metode aliran harga pokok bahan yang dipakai meliputi:
a. Metode identifikasi khusus
Pemakaian metode identifikasi khusus menentukan aliran harga pokok bahan yang
dipakai sesuai dengan aliran phisik bahan. Oleh karena itu penyimpanan bahan di
gudang harus dikelompokan atau dipisahkan sesuai dengan harga perolehan bahan
pada saat pembelian dan setiap kelompok dibuatkan kode atau kartu secara
terpisah.
b. Metode pertama masuk, pertama keluar(PMPK)
Pemakaian metode pertama masuk-pertama keluar didasarkan anggapan bahwa bahan
yang pertama kali dipakai dibebani dengan harga perolehan per satuan dari bahan
yang pertama kali masuk ke gudang bahan, atau harga perolehan bahan per satuan
yanag pertama kali masuk ke gudang bahan akan digunakan untuk menentukan harga
perolehan per satuan bahan yanag di pakai pertama kali, disusul harga perolehan
per satuan yang berikutnya.
c. Metode rata-rata
Pemakaian metode rata-rata didasarkan pada anggapan bahan yang dikonsumsi dibebani
dengan harga pokok persatuan bahan rata-rata.
d. Metode terakhir masuk, pertama keluar (TMPK)
Pemakaian metode terakhir masuk pertama keluar mendasarkan anggapan bahwa bahan
yang pertama kali dipakai dibebani dengan harga perolehan per satuan bahan dari
yang terakhir masuk, disusul dengan harga perolehan bahan per satuan yang masuk
sebelumnya dan seterusnya.
e. Metode harga pokok standar
Pada perusahan manufaktur dapat menyelenggarakan akuntansi persediaan atas
dasar metode harga pokok standar yang merupakan bagian dari metode pembebanan
harga pokok yang ditentukan di muka. Tujuan utama harga pokok standar adalah
untuk mengukur efesiensi perusahan
f. Metode persediaan dasar
Metode persediaan dasar didasarkan atas anggapan bahwa atas persediaan minimum
atas bahan harus selalu dimiliki perusahan pada setiap saat agar kegiatan dapat
kontinyu.
g. Metode harga beli terakhir
Metode harga beli terakhir membebankan harga perolehan bahan yang dipakai
sebesar kuantitas yang dipakai dikalikan dengan beli per satuan yang terakhir
dengan tidak memandang jumlah kuantitas yang dibeli terakhir.
h. Metode masuk kemudian, pertama keluar (MKPK)
Metode masuk kemudian pertama keluar tidak didasarkan kepada harga pokok
historis, metode didasarkan pemikiran bahwa harga pokok bahan yang dipakai
seharusnya dibebani harga pokok pengganti yang akan terjadi untuk memperoleh
bahan yang sama diwaktu terjadi transaksi pemakaian bahan.
Biaya Bahan Baku
Unsur biaya yang membentuk harga
pokok bahan baku yang dibeli
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh
produk jadi. Bahan baku dapat di peroleh dari pembelian lokal,impor atau
dari pengelolahan sendiri. Dalam memperoleh bahan baku mengeluarkan harga beli
bahan baku, biaya-biaya pembelian, pengudangan, dan biaya perolehan lain.
Sebelum di bahas unsur-unsur biaya yang membentuk harga
pokok bahan baku yang di beli berikut diuraikan sistem pembelian lokal bahan
baku.
Dalam sisem pembelian lokal bahan baku terdiri dari berbagai
macam prosedur yaitu:
1. Prosedur permintaan pembelian bahan
baku.
2. Prosedur order pembelian
3. Prosedur penerimaan bahan baku
4. Prosedur pencatatan penerimaan bahan
baku di bagian gudang
5. Prosedur pencatatan utang yang
timbul dari pembelian bahan baku
Perlakuan
terhadap biaya angkutan ini dapat dibedakan menjadi :
1. Biaya angkutan diperlakukan sebagai
tambahan haga pokok bahan baku yang dibeli.
2. Biaya angkutan tidak diperlakukan
sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli, maka diperlakukan sebagai
unsur biaya Overhead Pabrik.
A. Biaya angkutan diperlakukan sebagai
tambahan haga pokok bahan baku yang dibeli.
1. Perbandingan kuantitas tiap jenis
bahan baku yang dibeli
2. Perbandingan harga faktur tiap jenis
bahan baku yang dibeli
3. Biaya angkutan diperhitungkan dalam
harga pokok bahan baku yang dibeli berdasarkan tarif yang di tentukan dimuka.
Jurnal untuk mencatat pembebanan
biaya angkutan atas dasar tariff dan biaya angkutan yang sesungguhnya terjadi
adalah sebagai berikut :
(a). Pembebanan biaya angkutan
kepada bahan baku yang di beli atas dasar tarif yang ditentukan di muka adalah
sb :
persediaan bahan baku
xx
(tarif biaya angkutan x dasar pembebanan)
Biaya
angkutan
xx
(b). Pencatatan biaya angkutan
yang sesungguhnya dikeluarkan adalah sebagai berikut :
Biaya
angkutan
xx
Kas
xx
(c). Apabila pada akhir periode
terdapat selisih biaya angkutan yang di bebankan, yang jumlahnya material, maka
selisih tersebut dibagikan ke rekening persediaan bahan baku, persediaan barang
dalam proses, persediaan produk jadi, dan harga pokok penjualan dengan jurnal
sbb:
Persediaan bahan baku
xx
persediaan bahan dalam
proses
xx
persediaan produk
jadi
xx
harga pokok penjualan
xx
biaya
angkutan
xx
Biaya Unit Organisasi Yang Terkait
Dalam Perolehan Bahan Baku
Jika biaya pembelian dibebankan kepada bahan baku yang
dibeli atas dasar tarif, maka perhitungan tarif biaya pembelian dilakukan
sebagai berikut :
1.
Jumlah biaya tiap bagian yang terkait dalam transaksi
pembelian bahan baku tersebut diperkirakan selama satu tahun anggaran.
2.
Ditentukan dasar pembebanan biaya tiap-tiap bagian tersebut
dan ditaksir berapa jumlahnya dalam tahun anggaran.
3.
Ditentukan tarif pembebanan biaya tiap-tiap bagian tersebut
dengan cara membagi baiaya tiap bagian dengan dasar pembebanan.
Jurnal pembebanan biaya pembelian
kepada harga pokok bahan baku atas dasar tarif adalah sebagai berikut :
Persediaan
xx
Biaya bagian
pembelian yang dibebankan
xx
Biaya bagian
penerimaan yang
dibebankan
xx
Biaya bagian
gudang yang dibebankan
xx
Biaya bagian
akuntansi persediaan yang
dibebankan
xx
dasar pembebanan biaya pembelian tiap bagian yang terkait
dalam pengadaan bahan baku.
Bagian
Dasar
Pembebanan
Tarif Pembebanan Biaya Pembeliaan
Pembelian
Jumlah Frekuensi Pembelian Atau Tarif
Per Transaksi Pembelian Atau
Volume Pembelian
Tarif Setiap Jumlah Harga Faktur Pembelian
Penerimaan
Jumlah Macam Bahan Yang Diterima Tarif Per Macam Bahan Yang Diterima
Gudang
Jumlah Macam
Bahan,
Tarif Per Macam Bahan; Permeter
Kuantitas, Atau Nilai
Rupiah
Kubik Atau Pernilai Rupiah Bahan Baku
Yang
Disimpan Digudang
Akuntansi
Jumlah Frekuensi Pembelian
Tarif Per Transaksi Pembelian.
Persediaan
Unsur Biaya Yang Diperhitungkan
Dalam Harga Pokok Bahan Baku Yang Di Impor
Dalam perdagangan luar negeri, harga barang yang disetujui bersama antara
pembeli dan penjual akan mempengaruhi biaya-biaya yang menjadi tanggungan
pembeli. Bahan baku dapat diimpor dengan syarat harga :
-
Free alongside ship (FAS)
-
Free on board (FOB)
-
Cost and freight (C & F) : pembeli hanya menanggung
biaya-biaya untuk mengeluarkan bahan baku dari pelabuhan pembeli dan
biaya-biaya lain sampai dengan barang tersebut di terima di gudang pembeli
-
Cost , insurance, and freight
(C.I&F)
: biaya angkutan laut beserta asuransi lautnya sudah di perhitungkan oleh
penjual dalam harga barang
Harga pokok bahan baku yang di impor
terdiri dari :
Harga FOB
Rp
xx
Angkutan
laut (ocean freight)
xx
Harga C
& F
Rp
xx
Biaya
asuransi (marine insurance)
xx
Harga C.I
&
F
Rp xx
biaya-biaya
bank
xx
bea masuk
& biaya pabean
lainnya
xx
pajak
penjualan
impor
xx
biaya
gudang
xx
biaya
expedisi muatan kapal laut
(E.M.K.L)
xx
biaya
transport lokal
xx
harga pokok
bahan baku
Rp
xx
METODE PENCATATAN BIAYA BAHAN BAKU
Terdapat dua macam metode pencatatan biaya bahan baku yang
dipakai dalam produksi, yaitu metode mutasi persediaan (perpetual inventory
method) dan metode persediaan fisik (physical inventory method).
Dalam metode mutasi persediaan (perpetual), setiap mutasi
bahan baku dicatat dalam kartu persediaan, sedangkan dalam metode fisik, hanya
tambahan persediaan bahan baku dari pembelian saja yang dicatat dan mutasi
berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan.
Metode persediaan fisik sangat cocok digunakan dalam penentuan biaya bahan baku
perusahaan yang harga pokok produksinya dikumpulkan dengan metode harga
pokok proses , sedangkan metode persediaan digunakan dalam perusahaan yang
harga pokok produksi nya dikumpulkan dengan metode harga pokok pesanan.
1.
Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification Method)
Setiap jenis bahan baku yang ada di gudang harus diberi
tanda pada harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap
pembelian bahan baku yang harga pokok per satuannya berbeda dengan harga per
satuan bahan baku yang ada di gudang harus dipisahkan penyimpanannya dan diberi
tanda pada harga bahan tersebut. Metode ini merupakan metode yang paling teliti
dalam penentuan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi, namun
sering kali tidak praktis.
2.
Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Ø Dalam metode ini, penentuan biaya
bahan baku beranggapan bahwa harga pokok per satuan bahan baku yang pertama
masuk gudang, digunakan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali
dipakai. Yang jadi perhatian adalah anggapan aliran biaya tidak harus sesuai
dengan aliran fisik bahan baku dalam produksi.
3. Metode
Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Ø Dalam metode LIFO ini, penentuan
harga pokok yang dipakai dalam produksi beranggapan bahwa harga pokok per
satuan bahan baku yang terakhir masuk persediaan gudang, dipakai untuk
menentukan harga pokok atas bahan baku yang pertama kali dipakai dalam
produksi.
4. Metode
Rata – Rata Bergerak (Moving Average Method)
Ø Persediaan bahan baku yang ada di
gudang dihitung harga pokok rata – rata nya, dengan cara membagi total harga
pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembeliaan yang harga pokok
per satuannya berbeda dengan harga pokok rata – rata persediaan yang ada di
gudang, harus dilakukan perhitungan harga pokok rata – rata per satuan yang
baru. Bahan baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya
dengan mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata
– rata per satuan bahan baku yang ada di gudang.
5. Metode
Biaya Standar
Ø Bahan baku yang dibeli dicatat dalam
kartu persediaan sebesar harga standar (standard price), yaitu harga taksiran
yang mencerminkan harga yang diharapkan akan terjadi pada masa yang akan
datang. Harga standar merupakan harga yang diperkirakan untuk tahun anggaran
tertentu. Jurnal yang dibuat saat pembelian bahan baku sebagai berikut:
Persediaan
Bahan
Baku
xxx
Selisih
Harga
xxx
Untuk
mencatat bahan baku yang dibeli sebesar harga standar
Selisih
Harga
xxx
Utang
Dagang
xxx
Selisih
harga standar dengan harga sesungguhnya tampak dalam rekening Selisih Harga.
Setiap akhir bulan saldo rekening Selisih Harga dibiarkan tetap terbuka, dan
disajikan dalam laporan keuangan bulanan. Hal ini dilakukan karena saldo
rekening Selisih Harga setiap akhir bulan mungkin saling mengkompensasi,
sehingga pada akhir tahun saldo rekening Selisih harga perlu ditutup ke
rekening lain. Pemakaian bahan baku dalam produksi dicatat sebesar hasil kali
kuantitas bahan baku sesungguhnya yang dipakai dengan harga standarnya.
6.
Metode Rata – Rata Harga Pokok Bahan Baku pada Akhir Bulan\
Ø Dalam metode ini, pada akhir bulan
dilakukan penghitungan harga pokok rata – rata per satuan tiap jenis persediaan
bahan baku yang ada di gudang. Harga pokok per satuan ini kemudian akan
digunakan untuk menghitung harga pokok bahan baku yang dipakai dalam produksi
di bulan selanjutnya.
I. Masalah-masalah khusus yang berhubungan dengan bahan baku
1. SISA BAHAN (SCRAP MATERIALS)
Hasil penjualan sisa bahan dapat
diperlakuakan sebagai :
- Pengurangan biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan
yang menghasilkan sisa bahan tersebut.
- Pengurangan terhadap biaya overhead pabrik yang
sesungguhnya terjadi.
- Penghasilan di luar usaha (other income)
Hasil
Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Biaya Bahan
Baku yang Dipakai Dalam Pesanan yang Menghasilkan Sisa bahan Tersebut.
Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa bahan adalah sebagai berikut :
Kas/piutang
dagang
xxx
Barang Dalam proses-biaya bahan
baku
xxx
Hasil
penjualan sisa bahan ini juga dicatat dalam kartu pokok pesanan yang
bersangkutan dalam kolom “biaya bahan baku” sebagai pengurang biaya bahan baku
pesanan tersebut.
Hasil
Penjualan Sisa Bahan Diperlakukan Sebagai Pengurang Terhadap Biaya Overhead Pabrik
yang Sesungguhnya Terjadi. Jika
sisa bahan tidak dapat diidentifikasikan dengan pesanan tertentu, dan sisa
bahan merupakan hal yang bisa terjadi dalam proses pengerjaan produk, maka
hasil penjualanya dapat diperlakukan sebagai pengurang biaya overhead
pabrik yang sesungguhnya terjadi. Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa
bahan adalah sebagai berikut :
Kas/Piutang
Dagang
xxx
Biaya Overhead pabrik sesungguhnya
xxx
Hasil
Penjualan Sisa bahan Diperlakukan Sebagai Penghasilan Diluar Usaha (Other
Income). Dalam dua
perlakauan terhadap sisa bahan tersebut diatas, hasil penjualan sisa bahan
digunakan untuk mengurangi biaya produksi. Hasil penjualan sisa bahan dapat
pula diperlakuakan sebagai penghasilan diluar usaha dan tidak sebagai pengurang
biaya produksi. Jurnal yang dibuat pada saat penjualan sisa bahan adalah
sebagai berikut :
Kas/Piutang
Dagang
xxx
Hasil Penjualan Sisa
bahan
xxx
Hasil penjualan sisa bahan disajikan dalam laporan rugi laba
dalam kelompok penghasilan Di Luar Usaha (Other Income).
2. PRODUK RUSAK (SPOILED GOODS)
Produk
rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan,
yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang baik. Produk
rusak berbeda dengan sisa bahan karena sisa bahan merupakan bahan yang
mengalami kerusakan dalam proses produksi, sehingga belum sempat menjadi
produk, sedangkan produk rusak merupakan produk yang telah menyerap biaya
bahan, biaya tenaga kerja dan biaya overhed pabrik.
Perlakuan terhadap produk rusak adalah tergantung dari sifat dan sebab
terjadinya.
- Jika produk rusak terjadi
karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau faktor luar biasa yang
lain, maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai tambahan harga
pokok produk yang baik dalam pesanan yang bersangkutan.
- Jika produk rusak merupakan hal
yang normal terjadi dalam proses pengolahan produk, maka kerugian yang
timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan kepada produksi
secara keseluruhan, dengan cara memperhitungkan kerugian tersebut di dalam
tarif biaya
overhed pabrik. Oleh karena
itu, anggaran biaya overhead pabrik yang akan digunakan untuk menentukan
tarif biaya overhead pabrik terdiri dari elemen-elemen berikut ini:
Biaya bahan penolong
xxx
Biaya tenaga kerja tak
langsung
xxx
Biaya reparasi dan
pemeliharaan
xxx
Biaya asuransi
xxx
Biaya Overhead pabrik
lain
xxx
Rugi produk rusak (hasil penjualan –
hpp rusak)
xxx
Biaya overhead pabrik yang
dibebankan
xxx
Dan tarif biaya overhead pabrik
dihitung dengan rumus berikut ini :
BOP yang dianggarkan=Tarif
biaya overhead pabrik - Dasar pembebanan
Jika
terjadi produk rusak, maka kerugian yang sesungguhnya terjadi didebitkan dalam
rekening BOP Sesungguhnya,
3. PRODUK CACAT (DEFECTIVE GOODS)
Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu
yang telah ditentukan, tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali
untuk memperbaikinya, produk tersebut secara ekonomi dapat disempurnakan lagi
menjadi produk jadi yang baik.
Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah bagaimana
memperlakukan biaya tambahan untuk pengerjaan kembali (works cost) produk
tersebut. Perlakuan terhadap biaya pengerjaan kembali produk cacat adalah mirip
dengan yang telah dibicarakan dalam produk rusak (spoiled goods).
Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalam
proses pengerjaan produk, maka biaya pengerjaan kembali dapat dibebankan kepada
seluruh produksi dengan cara memperhitungkan biaya pengerjaan kembali tersebut
ke dalam tarif biaya overhead pabrik. Biaya pengerjaaan kembali produk
cacat yang sesungguhnya terjadi didebitkan dalam rekening Biaya Overhead Pabrik
Sesungguhnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Biaya bahan merupakan salah satu elemen penting bagi biaya produksi. Oleh
karena itu di bahas masalah-masalah yang dihadapi oleh menejemen meliputi:
1. Perencanan dan pengendalian bahan,
Yang menjadi masalah utama adalah meenyelenggarakan persedian bahan yang paling
tepat
2. Penentuan harga pokok bahan yang dibeli
Menurut prinsip akutansi yang termasuk didalam harga pokok bahan yang dibeli
adalah meliputi harga faktur yang ditambah biaya lainnya yang terjadi dalam
rangka perolehan bahan, baik yang berhubungan dengan biaya pemesanan mauapun
biaya penyimpanan samapai denga bahan yang
DAFTAR PUSTAKA
Suproyono,R.A S.U.Akuntansi biaya,1987 edisi 2
Badan pelaksana pasar modal,departemen keuangan republik indonesia, Himpunan
standar akuntansi internasional-jilid 1, bapepam,jakarta-indonesia, 1979
Ikatan akuntan indonesia (IAI) ., prinsip akuntansi indonesia ,IAI, Jakarta,
1974
PEMBAHASAN
A. Perencanaan dan Pengendalian Bahan
Perencanaan bahan dipengaruhi oleh sifat kegiatan produksi perusahan, apakah kegiatan produksi tergantung kepada datangnya pesanan dari langganan (pembeli), atau kegiatan produksi bersiafat massa atau proses. Umumnya perencaan bahan pada perusahan yang kegiatan produksinya bersifat proses atau massa lebih mudah di bandingkan dengan perusahan yang berproduksi berdasar pesanan.
Tujuan perencaan dan pengendalian bahan mempunyai 2 tujuan pokok:
1. Untuk menekan (meminimumkan) biaya.
2. Untuk memaksimumkan laba dalam waktu tertentu dan dengan dana tertentu.
Dalam perencanaan dan pengendalian bahan yang menjadi masalah utama adalah menyelengarakan persedian bahan yang paling tepat, agar kegiatan produksi tidak terganggu dan dana yang ditanamkan dalam persedian bahan tidak berlebihan.
Masalah tersebut berpengaruh pada penentuan ;
1. Penentian Kuantitas Yang Akan Di beli dalam Periode Akuntasi Tertentu
Apabila perusahan memiliki standar kuantitas atau formula kuantitas pemakaian bahan, akan membantu untuk mempermudah penentuan kuantitas bahan yang akan dibeli dalam akuntasi tertentu
Faktor-faktor yang menentukan kuantitas bahan baku yang akan di beli dalam satu periode akuntasi adalah:
a. Jumlah kuantitas persediaan awal bahan
b. Jumlah produksi ekuivalen (setara) yang akan dihasilkan dalam periode tertentu
c. Kuantitas bahan yang diperlukan untuk menghasilkan satu buah produk
d. Jumlah kuantitas persediaan akhir bahan yang di inginkan oleh perusahan
2. Menentukan Kuantitas Bahan yang Dibeli Setiap kali Dilakukan Pembelian
Setelah anggaran kuantitas pembelian barang dalam satu periode di tentukan maka timbul masalah beberapa kali dan dalam jumlah berapa pembelian bahan akan dilakukan dalam satu periode agar memenuhi pembelian tersebut adalah bagaimana dapat mencukupi agar tidak mengganggu kelancaran kegiatan produksi dan dapat menekan harga perolehan (cost) bahan serendah mungkin.
Elemen yang mempengaruhi harga perolehan bahan adalah sebagai berikut:
a. Harga faktur termasuk biaya angkut dari setiap satuan (cost per unit) bahan yang di beli
b. Biaya pemesanan atau disebut procurement cost atau set-up cost atau ordering cost.
Biaya pemesanan adalah biaya yang terjadi dalam rangka melaksanakan kegiatan pemesanan bahan.
Biaya pemesanan dapat dikelompokan menjadi:
1. Biaya pemesanan tetap yaitu biaya pemesanan yang besarnya tetap sama dalam periode tertentu tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemesanan; misalnya gaji bagian pembeli
2. Biaya pemesanan variabel yaitu biaya pemesanan yang jumlah totalnya ber ubah-ubah secara proporsional dengan frekuensi pemesanan; misalnya biaya penerimaan bahan yang di pesan
c. Biaya penyimpanan atau disebut stroge cost atau carrying cost.
Biaya penyimpanan adalah biaya yang terjadi dalam rangka melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan.
Biaya penyimpanan dapat dikelompokan menjadi:
1. Biaya penyimpanan tetap yaitu biaya penyimpanan bahan yang jumlah totalnya tidak dipengaruh jumlah atau besarnya bahan yang disimpan digudang; misalnya biaya penyusutan gudang
2. Biaya penyimpanan variabel yaitu yaitu biaya penyimpanan bahan yang jumlah totalnya ber ubah-ubah secara proporsional dengan jumlah atau besarnya bahan yang disimpan. Misalanya biaya sewa gudang (apabila gudang disewa oleh pihak lain)
Dari elemen yang mempengauruhi atau membentuk harga perolehan bahan tersebut dimuka, faktor yang menentukan berapa kali dan berapa jumlah setiap kali pembelian bahan adalah biaya pemesanan variabel dan biaya penyimpanan variabel. Kedua macam biaya ini meskipun ke dua-duanya bersifat variabel mempunyai hubungan berbanding terbalik, semakin tinggi frekuensi pemesanan akan berakibat biaya pemesanan variabel semakin tinggi tetapi berakibat pada biaya penyimpanan variabel yang semakin rendah karena rata-rata bahan yang disimpan semakin rendah, semakin rendah frekuensi pemesanan berakibat biaya pemesanan variabel rendah tetapi biaya penyimpanan variabel tingg karena rata-rata bahan yang disimpan semakin tinggi.
3. Penentuan Waktu Pemesanan Kembali Bahan (Re Orde Point)
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pemesanan kembali adalah:
a. Waktu yang diperlukan dari saat pemesanan sampai bahan datang diperusahan (lead time).
b. Tingkat pemakaian bahan rata-rata per hari atau satuan waktu lainnya.
c. Persediaan besi (safety stock).
4. Penentuan Minimum dan Maksimum Kuantitas Persediaan Bahan
Dari perhitungan EOQ dan recorde point dapat ditentukan titik minimum dan maksimum persediaan bahan. Persediaan yang diselenggarakan paling banyak sebesar titik maksimum, yaitu pada saat bahan yang dibeli datang, Tujuan penentuan maksimum agar dana yang tertanam dalam persediaan bahan tidak berlebihan. Karena pada saat bahan yang dibeli datang besarnya bahan digudang sama dengan persediaan besi, maka setelah bahan yang dimasukan pula kegudang persediaan maksimum adalah:
Ms = SS + EOQ
Dimana:
Ms = Maximum inventory point, titik persediaan maksimum.
SS = safety stock, atau persedian besi yang sekaligus merupakan minimum inventory point (Mn) sesaat sebelum pembelian bahan datang.
EOQ = economi order Quantity, kuantitas pemesanan paling ekonomis.
B. Penentuan Harga Pokok Bahan yang Dibeli
Menurut prinsip akuntansi, yang termasuk didalam harga pokok bahan yang dibeli adalah meliputi harga faktur ditambah biaya lainnya yang terjadi dalam rangka perolehan bahan, baik yang berhubungan dengan biaya pemesanan (Ordering cost) maupun biaya penyimpanan ( carrying cost) sampai dengan bahan siap dipakai didalam kegiatan produksi, dikurangi dengan pemotongan pembelian, rabat dan subsidi langsung atas pembelian.
Cara perlakuan terhadap elemen-elemen yang berhubungan dengan pemilikan dan perolehan bahan:
1. Potongan pembelian bahan
Menurut prinsip akuntansi potongan pembelian bahan mengurangi harga faktur bahan yang dibeli.
2. Kemasan atau kontainer bahan
Dalam membeli barang seringkali menggunakan kemasan atau kontainer barang(tempat menyimpan) bahan yang nantinya harus dikembalikan kepada suplier bahan.
3. Biaya angkutan pembelian
Biaya angkutan bahan yang dibeli ditanggung oleh suplier tidak menam bah harga perolehan bahan.
4. Biaya bahan-bahan bagian pengelolaan bahan
Bagian-bagian yang berhubungan denagan pengelolaan bahan meliputi bagian pembelian, bagian penerimaan, bagian gudang bahan, bagian akuntansi persediaan bahan.
C. Perhitungan Harga Pokok Bahan Yang Dipakai
Setelah harga pokok (perolehan) bahan yang dibeli dapat ditentukan, selanjutnya timbul masalah penentuan harga pokok bahan yang dipakai.penyebab timbulnya masalah tersebut karena perbedaan harga perolehan satuan stiap kali dilakukan pembelian bahan yang sama, jadi fluktuasi harga.
Tujuan akuntansi penentuan harga pokok bahan yang dipakai adalah:
1. Untuk penentuan harga pokok yang dipakai dan harga pokok persedian bahan dengan lebih adil dan teliti.
2. Untuk tujuan pengendalian (pengawasan) atas bahan
Faktor-faktor yang menentukan harga pokok bahan yang dipakai adalah:
1. Metode akuntansi perusahan
Dalam menyelenggarakan pencatatan persedian bahan perusahan dapat memilih metode akuntansi persedian yang ada yaitu:
a. Metode persedian phisik
Metode persedian phisik hanya dapat digunakan oleh perusahan yang relatif kecil dan mengumpulkan harga pokok produk berdasar proses,dimana phisik persedian bahan masih memungkinakan diawasi secara langsung oleh manajemen perusahan.
b. Metode persediaan abadi
Metode persediaan abadi disebut pula metode persediaan terus-menerus atau kekal adalah metode akuntansi persediaan yang terus-menerus mengikuti mutasi atau perubahan di dalam persediaan.
Prosedur akuntansi bahan dalam metode persediaan abadi misalnya sebagai berikut:
1. Pembelian bahan
Atas dasar skedule pembelian atau permintaan bagian teknik, perencaan dan rute produksi,atau bagian yang memerlukan bahan, oleh bagian pembelian dibuat dokumen pesanan pembelian yang yang kirimkan kepada suplier.
Bahan yang dibeli diterima oleh bagian penerimaan dan diperiksa dengan kesesuaiannya bahan yang dipesan, bagian penerimaan membuat bukti laporan penerimaan bahan.
2. Pengembalian pembelian barang
Apabila terdapat bahan yang dibeli dikembalikan kepada suplier karena tidak sesuai dengan yang dipesan, bagian pengiriman mengirimkan bahan tersebut kepada suplier dan membuat bukti pengembalian pembeli.
3. Pemakaian bahan
Bagian yang memerlukan bahan, yaitu bagian produksi atau bagian teknik, perencanaan dan rute produksi, membuat bon permintaan bahan atau daftar permintaan bahan ke gudang bahan.
4. Pada akhir periode diadakan perhitungan phisik persediaan yang tujuannya bukan untuk menentukan harga pokok bahan yang dipakai, tetapi untuk pengawasan phisik persediaan apakah sesuai denagan kartu persediaan bahan.
2. Metode aliran harga pokok
Beberapa macam metode aliran harga pokok bahan yang dipakai meliputi:
a. Metode identifikasi khusus
Pemakaian metode identifikasi khusus menentukan aliran harga pokok bahan yang dipakai sesuai dengan aliran phisik bahan. Oleh karena itu penyimpanan bahan di gudang harus dikelompokan atau dipisahkan sesuai dengan harga perolehan bahan pada saat pembelian dan setiap kelompok dibuatkan kode atau kartu secara terpisah.
b. Metode pertama masuk, pertama keluar(PMPK)
Pemakaian metode pertama masuk-pertama keluar didasarkan anggapan bahwa bahan yang pertama kali dipakai dibebani dengan harga perolehan per satuan dari bahan yang pertama kali masuk ke gudang bahan, atau harga perolehan bahan per satuan yanag pertama kali masuk ke gudang bahan akan digunakan untuk menentukan harga perolehan per satuan bahan yanag di pakai pertama kali, disusul harga perolehan per satuan yang berikutnya.
c. Metode rata-rata
Pemakaian metode rata-rata didasarkan pada anggapan bahan yang dikonsumsi dibebani dengan harga pokok persatuan bahan rata-rata.
d. Metode terakhir masuk, pertama keluar (TMPK)
Pemakaian metode terakhir masuk pertama keluar mendasarkan anggapan bahwa bahan yang pertama kali dipakai dibebani dengan harga perolehan per satuan bahan dari yang terakhir masuk, disusul dengan harga perolehan bahan per satuan yang masuk sebelumnya dan seterusnya.
e. Metode harga pokok standar
Pada perusahan manufaktur dapat menyelenggarakan akuntansi persediaan atas dasar metode harga pokok standar yang merupakan bagian dari metode pembebanan harga pokok yang ditentukan di muka. Tujuan utama harga pokok standar adalah untuk mengukur efesiensi perusahan
f. Metode persediaan dasar
Metode persediaan dasar didasarkan atas anggapan bahwa atas persediaan minimum atas bahan harus selalu dimiliki perusahan pada setiap saat agar kegiatan dapat kontinyu.
g. Metode harga beli terakhir
Metode harga beli terakhir membebankan harga perolehan bahan yang dipakai sebesar kuantitas yang dipakai dikalikan dengan beli per satuan yang terakhir dengan tidak memandang jumlah kuantitas yang dibeli terakhir.
h. Metode masuk kemudian, pertama keluar (MKPK)
Metode masuk kemudian pertama keluar tidak didasarkan kepada harga pokok historis, metode didasarkan pemikiran bahwa harga pokok bahan yang dipakai seharusnya dibebani harga pokok pengganti yang akan terjadi untuk memperoleh bahan yang sama diwaktu terjadi transaksi pemakaian bahan.
(tarif biaya angkutan x dasar pembebanan)
Biaya angkutan xx
Kas xx
persediaan bahan dalam proses xx
persediaan produk jadi xx
harga pokok penjualan xx
biaya angkutan xx
Biaya bagian pembelian yang dibebankan xx
Biaya bagian penerimaan yang dibebankan xx
Biaya bagian gudang yang dibebankan xx
Biaya bagian akuntansi persediaan yang dibebankan xx
Volume Pembelian Tarif Setiap Jumlah Harga Faktur Pembelian
Kuantitas, Atau Nilai Rupiah Kubik Atau Pernilai Rupiah Bahan Baku
Yang Disimpan Digudang
Persediaan
Angkutan laut (ocean freight) xx
Harga C & F Rp xx
Biaya asuransi (marine insurance) xx
Harga C.I & F Rp xx
biaya-biaya bank xx
bea masuk & biaya pabean lainnya xx
pajak penjualan impor xx
biaya gudang xx
biaya expedisi muatan kapal laut (E.M.K.L) xx
biaya transport lokal xx
harga pokok bahan baku Rp xx
Baku yang Dipakai Dalam Pesanan yang Menghasilkan Sisa bahan Tersebut.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Biaya bahan merupakan salah satu elemen penting bagi biaya produksi. Oleh karena itu di bahas masalah-masalah yang dihadapi oleh menejemen meliputi:
1. Perencanan dan pengendalian bahan,
Yang menjadi masalah utama adalah meenyelenggarakan persedian bahan yang paling tepat
2. Penentuan harga pokok bahan yang dibeli
Menurut prinsip akutansi yang termasuk didalam harga pokok bahan yang dibeli adalah meliputi harga faktur yang ditambah biaya lainnya yang terjadi dalam rangka perolehan bahan, baik yang berhubungan dengan biaya pemesanan mauapun biaya penyimpanan samapai denga bahan yang
DAFTAR PUSTAKA
Suproyono,R.A S.U.Akuntansi biaya,1987 edisi 2
Badan pelaksana pasar modal,departemen keuangan republik indonesia, Himpunan standar akuntansi internasional-jilid 1, bapepam,jakarta-indonesia, 1979
Ikatan akuntan indonesia (IAI) ., prinsip akuntansi indonesia ,IAI, Jakarta, 1974
Tidak ada komentar:
Posting Komentar